Menurut Kantor Berita ABNA, Selain itu, masih ada sejumlah berita lainnya mengenai pergerakan militer AS di Teluk Persia dan tanggapan Iran, kepergian filsuf Iran, kesiapan Iran tingkatkan pengayaan uranium, Iran uji klinis vaksin dalam negeri, dan berbagai berita lainnya.
Peringatan Haul Syahid Soleimani Dimulai di Tehran
Peringatan haul pertama syahid Qasem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis dimulai di Universitas Tehran, Iran pada Jumat (1/1/2021) pagi.
Acara ini dihadiri oleh komandan Pasukan Quds, para petinggi Korps Garda Revolusi Islam serta sejumlah pejabat negara dan militer Iran. Peringatan ini dilaksanakan tanpa melibatkan masyarakat luas karena situasi pandemi virus Corona.
Sejumlah pejabat dari luar negeri dan keluarga syuhada juga menghadiri acara tersebut.
Komandan Pasukan Quds, Brigjen Esmail Qaani dalam sambutannya, mengatakan syahid Soleimani adalah kesatria lapangan poros perlawanan, tetapi ia memulai perlawanan dari dalam dirinya.
“Syahid Soleimani adalah pahlawan bangsa Iran, juga pahlawan umat Islam, dan pahlawan penghancur kekuatan arogan,” tegasnya.
Brigjen Qaani menuturkan bahwa kita telah banyak mendengar tentang kepemimpinan syahid Soleimani di lapangan, tetapi salah satu karakteristiknya yang paling unggul adalah logikanya yang kuat.
“Di semua medan yang ia datangi, dia masuk dengan logika, tetapi ketika pihak lawan tidak memahami logika, dia akan berbicara kepada mereka dengan bahasa lain,” ungkapnya.
Komandan Pasukan Quds Janji Kejar Para Pembunuh Syahid Soleimani
Komandan Pasukan Quds IRGC, Brigjen Esmail Qaani mengatakan syahid Qasem Soleimani adalah pahlawan bangsa Iran, juga pahlawan umat Islam, dan pahlawan penghancur kekuatan hegemonik.
"Risalah Pasukan Quds dan kubu perlawanan tidak akan berubah dengan perilaku jahat Amerika Serikat," ujarnya dalam pidato pada acara peringatan haul pertama syahid Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis di Universitas Tehran, Jumat (1/1/2021) pagi.
Brigjen Qaani mencatat bahwa musuh mengejar pembunuhan para komandan kubu perlawanan selama 30 tahun terakhir.
"Pria bodoh ini (Donald Trump) adalah orang yang paling keji dan paling jahat di dunia, yang tidak memegang prinsip apapun dalam pikirannya. Dengan hasutan rezim Zionis dan Arab Saudi, ia melakukan kejahatan keji yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan belum pernah terjadi terhadap pejabat politik dan militer manapun di era ini," tambahnya.
Brigjen Qaani memperingatkan para pejabat AS bahwa mereka yang terlibat dalam kejahatan ini perlu tahu bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang mengundang kesiapan setiap orang di seluruh dunia untuk menghukum para pengecut ini.
"Dengan kejahatan yang kalian lakukan, yakinlah bahkan dari dalam rumah kalian sendiri, akan muncul orang-orang yang akan melakukan pembalasan ini," tegasnya.
Di bagian lain, Brigjen Qaani mengatakan militer rezim Zionis mulai ketakutan di perbatasan Palestina dan Lebanon.
"Suriah berdiri teguh dan sekarang hampir semua bagian negara itu telah dibebaskan. Para mujahidin Irak tetap teguh memegang prinsipnya, Yaman yang tertindas juga melangkah dengan kuat. Inilah jalan syahid Soleimani yang akan terus berlanjut dengan pertolongan Allah Swt," ujarnya.
AS dalam sebuah tindakan keji, meneror Komandan Pasukan Quds Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani dan Wakil Komandan Hashd al-Shaabi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis dalam serangan drone di dekat Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari 2020. Delapan rekan-rekan mereka juga gugur syahid dalam serangan udara pasukan teroris AS.
Komandan IRGC: Iran Siap untuk Segala Skenario
Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), mengatakan pergerakan Amerika Serikat baru-baru ini di kawasan sebagai konsekuensi dari kesalahan mereka tahun lalu dalam pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis.
"Iran siap untuk segala skenario musuh di kawasan," kata Brigjen Hossein Salami kepada wartawan di sela-sela acara peringatan haul pertama syahid Soleimani dan Mahdi al-Muhandis yang digelar di Universitas Tehran, Jumat (1/1/2021).
Menurut komandan IRGC, kejahatan AS dalam membunuh para pemimpin poros perlawanan telah memicu kebencian yang intens di kalangan pemuda Dunia Islam, dan kebencian ini seperti mimpi buruk akan selalu menyiksa para pejabat Amerika.
Mereka, lanjutnya, mengambil serangkaian langkah untuk melarikan diri dari mimpi buruk yang berbahaya ini.
"Jalan para syuhada perlawanan akan diteruskan. Para pemuda Dunia Islam saat ini memiliki tekad yang lebih kuat dari sebelumnya untuk mengusir AS dari kawasan dan mengalahkan Zionis," tegas Brigjen Salami.
Berbicara tentang pembalasan keras, dia menjelaskan bahwa pembalasan keras bukanlah sebuah titik tapi sebuah jalan. Artinya, mereka yang terlibat dalam kejahatan tersebut tidak akan tenang, tetapi waktu, tempat dan kualitasnya tunduk pada kondisi tertentu yang akan muncul.
"Jalan pembalasan yang keras adalah jalan runtuhnya rezim Zionis dan runtuhnya hegemoni politik AS di kawasan serta terusirnya Amerika dari kawasan dan menyerahkan nasib kaum Muslim di tangannya sendiri," pungkasnya.
342/